0
Anak Saya Kalau Makan Masih Ada Gagging-nyaby adminon.Anak Saya Kalau Makan Masih Ada Gagging-nyaGagging atau perasaan seperti keselek-mau-muntah ketika makan makanan tertentu, bisa dikatakan normal jika dipersandingkan dengan “nilai kebiasaan” dalam lingkungan kita. Misalnya: (Situasi 1) banyak orang yang kita kenal sangat menyukai buah durian, tetapi kita juga kenal banyak orang yang tidak menyukai buah durian bahkan saat mencium aromanya bisa mual. Situasi ini menggambarkan peran sensor smell […]

Gagging atau perasaan seperti keselek-mau-muntah ketika makan makanan tertentu, bisa dikatakan normal jika dipersandingkan dengan “nilai kebiasaan” dalam lingkungan kita. Misalnya:
(Situasi 1) banyak orang yang kita kenal sangat menyukai buah durian, tetapi kita juga kenal banyak orang yang tidak menyukai buah durian bahkan saat mencium aromanya bisa mual. Situasi ini menggambarkan peran sensor smell (Gustatori) dan sensor taste (Olfaktori) lebih dominan. Anda mungkin sepakat dengan saya, bahwa dalam situasi sehari-hari ada aroma-aroma yang disukai oleh banyak orang, ada yang hanya disukai oleh sebagian kecil orang. Untuk contoh durian mungkin fifty2 ya, karena banyak yang suka, dan banyak juga yang tidak suka.

(Situasi 2) jika kita diberi sepotong roti, tentu anda sepakat dengan saya bahwa sebagian besar orang (tanpa menilai aspek apakah sehat atau tidak) menyukainya. Tetapi bayangkan, jika roti yang disodorkan berbentuk ekstrem (maaf) misal berbentuk sangat artistik* seperti potongan jari tangan berdarah darah, mungkin sebagian besar dari kita menjadi merasa mual dan tidak ingin memakannya. Situasi ini menggambarkan peran sensor sight (Visual) lebih dominan. Kita tahu bahwa yang kita lihat itu roti, tetapi kita tidak memiliki selera untuk memakannya karena tampilannya (visual) terasa mengganggu. Sehingga bukannya me-ON-kan selera makan malah kebalikannya me-OFF-kan selera makan.
Nah, dari contoh situasi tersebut, maka gangging menjadi wajar.

*Tapi, btw, untuk urusan roti artistik ini, mungkin jika roti tersebut disodorkan pada orangtua kita, kakek/neneknya anak kita bisa jadi sangat ditolak. Tetapi jika disodorkan pada adik2 kita para generasi milenial-asli bisa jadi diterima dan dimakan saja. Hehe.

Sedangkan contoh yang tidak wajar, diantaranya sbb (sebagai berikut), bukan psbb ya:
(Situasi 3) maunya kalau makan suapan kecil-kecil, kalau makan dengan suapan lebih besar, anak seringkali menolak, jika dipaksakan biasanya dia gagging. Di sini, bisa jadi volume atau ukuran makanan menjadi isu yang mengakibatkan kemampuan lidah dalam memanipulasi makanan di dalam mulut dituntut untuk menjadi lebih bagus. Jika perkembangan otot-otot lidah belum tuntas sehingga kemampuan manipulasi makanan di dalam mulut belum benar-benar baik. Maka pergerakan lidah yang belum baik tersebut kalau dipaksakan (untuk memanipulasi makanan bervolume lebih besar) bisa memunculkan gerakan kompensasi. Misal, dia bisa kok kalau dipaksakan makan tempe goreng tepung, tetapi saat mengunyah mulutnya menjadi lebih monyong dibandingkan makanan lainnya. Atau makan sih tapi habis itu minta minum melulu. Keduanya (mulut lebih monyong atau makan didorong dengan minum) adalah bentuk kompensasi, termasuk efek gagging.

(situasi lainnya) selain contoh situasi 3 bahwa volume makanan bisa menjadi isu yang memicu munculnya gerak kompensasi (mulut lebih monyong, didorong minum, atau gagging), ada juga isu lainnya. Diantara yang sering ditemui dalam praktik sehari-hari adalah:
(1) Tidak suka makanan lembek, maunya makanan keras atau kriuk;
(2) Sudah usia sekolah tetapi masih belum bisa makan mpek-mpek (chewy, kenyal-liat);
(3) Kalau makan biskuit stik po*y bisa, tapi tidak mau merk lain;
(4) Kalau bayam potongannya agak besar, dia gagging.

Contoh isunya segitu dulu aja ya. Secara general mungkin kita bisa berpatokan pada “ada makanan/minuman yang ditolak” padahal anak-anak seusianya tidak seperti itu. Dan bahasan ini dalam konteks anak kita yang mengalami gangguan perkembangan, bukan yang tidak.

Sedangkan untuk yang kebalikannya, yaitu “semua jenis makanan apapun anak suka dan hampir tidak pernah menolak” apalagi kalau anak juga tidak gagging, juga “hampir” sami mawon. Kapan-kapan mungkin bisa saya ceritakan.

Begitu kira2 yang bisa saya sampaikan.
Itu pula, mengapa dalam proses terapi yang kami berikan, dimulai dari makanan yang disukai. Justru makanan target (dalam contoh di atas adalah tempe goreng tepung) ditunda pemberiannya, menunggu efek terapeutik dari aktivitas2 oral yang dilakukan.

Sekian

Related Posts

 

Tinggalkan Balasan