0
Anak Saya Usia 7 Tahun: Sekolah atau Terapi?by adminon.Anak Saya Usia 7 Tahun: Sekolah atau Terapi?Hemm, terus terang ini pertanyaan yang sensitif. Dan Saya secara pribadi sejak tahun 2010 (anak saya belum lahir) sampai dengan sekarang, masih berpendapat sama, yaitu: Terapi duluan, lah. Hanya saja Saya tidak pernah secara terbuka mengutarakan opini Saya tersebut, karena suatu alasan pribadi. Hehe, entah karena Saya terapis dan Saya bukan guru, maka Saya beropini […]

Hemm, terus terang ini pertanyaan yang sensitif. Dan Saya secara pribadi sejak tahun 2010 (anak saya belum lahir) sampai dengan sekarang, masih berpendapat sama, yaitu: Terapi duluan, lah. Hanya saja Saya tidak pernah secara terbuka mengutarakan opini Saya tersebut, karena suatu alasan pribadi. Hehe, entah karena Saya terapis dan Saya bukan guru, maka Saya beropini itu? Atau karena memang terapi lebih mendasar bagi tumbuh kembang anak, bagi Saya keduanya “tidak masalah”.

Karena bagi Saya, setiap orang perlu menentukan keputusannya secara mandiri berpijak pada pilihan dan pemahamannya masing-masing. Maka tugas Saya adalah membagi ide yang ada di kepala Saya saja. Selebihnya terserah setiap orangtua maunya seperti apa.

Analoginya mudah: jika perkembangan anak yang tipikal (tidak memiliki masalah perkembangan berarti) itu berlangsung otomatis; maka perkembangan anak yang atipikal (memiliki masalah perkembangan) berarti tidak otomatis. Otomatis itu begini maksudnya: anak tipikal saat berada di fase merangkak, lalu 3 bulan kemudian tanpa latihan tambahan yang Anda berikan, tiba-tiba dia bisa berdiri sendiri, tidak Anda ajari lalu bisa berjalan sendiri, dst, dst.

Nah, anak atipikal, misal anak Saya, dia di usia 6 bulan masih belum bisa merangkak, ditunggu sebulan, masih belum bisa merangkak juga. Lalu dibantu kegiatan terapeutik (dilatih sendiri tanpa didampingi terapis) masih belum bisa juga, ditambahi “dosis” terapi oleh fisioterapis pun kecepatan perkembangannya masih tidak se-cepat anak tipikal/normal. Ini ilustrasi bahwa anak atipikal itu Saya istilahkan “perkembangannya tidak otomatis”.

Nah, sekarang bayangkan bahwa seluruh proses perkembangan anak dari lahir sampai usia sekolah itu terjadi otomatis pada anak-anak tipikal. Seru enggak? Enak enggak? Misal: enggak bisa naik sepeda, diajarin sehari dua hari, beberapa hari kemudian langsung bisa. Malah setelah bisa, tahu-tahu skill bersepedanya meningkat tajam tanpa Kita ajari. Sebaliknya, pada anak atipikal, jika hanya diajari secara tradisional (seperti mengajarkan anak tipikal) yang ada mungkin Kita mulai mengeluh “sudah diajarkan berkali-kali kok enggak bisa-bisa sih!”.

Jadi, “asumsinya” adalah: perkembangan anak tipikal itu cenderung otomatis. Sehingga kemampuannya (usia perkembangan) setara dengan usia kalendernya. Usianya 7 tahun yaaa keterampilannya seperti anak usia 7 tahun pada umumnya. Sedangkan perkembangan anak atipikal cenderung tidak otomatis, atau otomatis namun kecepatannya lambat. Sehingga usia kalendernya 7 tahun tetapi usia perkembangannya (ternyata) masih setara usia 3 tahun.

Satu lagi, soal kemampuan akademik (kemampuan yang berhubungan dengan capaian sekolah, seperti membaca, berhitung, dll) dan kemampuan dasar (keterampilan motorik, bicara, dll). Namanya aja kemampuan dasar yaaa pastinya harus lebih dahulu dikuasai daripada kemampuan akademik. Sesederhana itu! Tetapi ingat sesuatu yang sederhana seperti web yang dibuka ini, terdapat proses yang lumayan rumit. Hehehe.

Kesimpulan sementara saya, adalah: Jika sekolah untuk anak tipikal, dalam hal ini sekolah usia SD terjadi di usia kalender 7 tahun, disaat anak sudah memiliki berbagai skill dasar yang dikembangkannya sendiri secara otomatis. Pertanyaannya: Apakah tepat jika anak atipikal pada usia kalender yang sama mendapatkan materi sekolah/akademik di saat ada banyak skill mendasar yang belum tuntas?

Atau ekstrem-nya nih (maafkan bahasa ekstrem Saya, karena sekarang Saya lebih vokal mengajak orang lain untuk memahami sistem perkembangan anak), sama saja seperti Kita memasukkan anak usia 3 tahun ke SD. Bullying, kejam! Hehe. Karena saya membahas dari sisi atipikal. Bukan membahas sekolah untuk anak tipikal apalagi anak berbakat. Ya beda kamar.

Saya tidak sedang melarang sekolah bagi anak atipikal. TIDAK! bukan itu! Saya sedang mengajak diri Saya merenungkan dan melihat kembali anak Saya secara keseluruhan dalam rangka: Usia 7 tahun masuk sekolah atau enggak ya?! Karena secara usia kalender dia memang 7 tahun, tetapi apakah secara kecepatan perkembangan ia berusia 7 tahun juga?

Eh, tapi ada yang bilang “anaknya sudah kenal huruf kok”, dst, dst. Yaa ini harus Saya babarkan mengenai Usia Perkembangan vs Usia Kalender. Mungkin lain waktu ya. Dan, sebagai tambahan. Setiap anak berbeda karakteristik khas perkembangannya. Sehingga perlakuannya bisa sangat berbeda.

Kata kunci dalam tulisan ini adalah:

  • Anak tipikal & anak atipikal
  • Perkembangan otomatis & tidak otomatis
  • Usia kalender & usia perkembangan
  • Kemampuan akademik & kemampuan dasar

 

Tulisan ini memang dirancang pendek-pendek. Jika ingin memahami lebih lanjut., bisa baca-baca tulisan dengan judul lain yang sinambung. Atau silahkan kontak admin via whatsapp.

Semoga bermanfaat!

Salaam,

Pipit

IG. Thepita_info

Related Posts

 

Tinggalkan Balasan