0
Apakah Terapi Online Efektif?by adminon.Apakah Terapi Online Efektif?Hola, Ibu, Bapak, Sejawat dan Warganet sekalian. Apakah saudara sekalian sudah mendengarkan IG-Live Thepita pada Jumat 20 Agustus 2021 lalu, sekitar jam 11.00 WIB? Nah, bagi yang sudah, inilah beberapa poin re-konstruksi yang Kami tawarkan. Sebelum ke poin tentang rekonstruksi, mohon untuk membaca uraian berikut ini: a) Jika Saudara sekalian ingat, bahwa pertanyaan dasar yang […]

Hola, Ibu, Bapak, Sejawat dan Warganet sekalian.

Apakah saudara sekalian sudah mendengarkan IG-Live Thepita pada Jumat 20 Agustus 2021 lalu, sekitar jam 11.00 WIB? Nah, bagi yang sudah, inilah beberapa poin re-konstruksi yang Kami tawarkan.

Sebelum ke poin tentang rekonstruksi, mohon untuk membaca uraian berikut ini:

a) Jika Saudara sekalian ingat, bahwa pertanyaan dasar yang diajukan oleh Tita sebagai host adalah “Apakah terapi online efektif?”. Saudara sekalian akan mendapatkan jawaban panjang lebar dari Saya (Pipit), non-hitan dan non-putih, chaos (tidak teratur), dan tidak terstruktur dari Saya. Hehe. Harapan Saya adalah semoga Saudara sekalian bisa melihat dalam atmosfir pikiran (opini) masing-masing, bahwa ada banyak alternatif dan faktor yang ‘bisa saling mempengaruhi’. Termasuk penelitian ilmiah, pun, bisa pro dan bisa kontra. Sedangkan kapasitas Saya untuk bisa membaca banyak penelitian masih belum pantes. Sementara ini Kami hanya follower saja, bahwa terapi online terutama di dunia terapi wicara sudah dipromosikan (diantaranya) oleh ASHA (American Speech-Language-Hearing Association) sejak tahun 2005. Silahkan cek Telepractice (asha.org)

Kami, atau Saya secara pribadi ‘lebih suka’ mengajak orang lain ‘bertumbuh’ dengan hasil opini/ pemikiran sendiri berdasarkan berbagai pengalamannya masing-masing yang otomatis berbeda-beda. Yang menurut pemahaman Saya, Kita hanya akan bertumbuh (antara lain) jika mengizinkan diri Kita untuk menggunakan pikiran/ opini Kita sendiri. Tetapi juga opini yang ‘terbuka untuk terus berubah (=bertumbuh)’ supaya tidak terjebak dalam ‘lingkaran setan sok tahu’.

b) Lalu, setelah pikiran Anda chaos karena jawaban chaos Saya, tentu saja tahap selanjutnya adalah me-rekonstruksi ide, opini, gaya pikiran, pilihan gaya pengasuhan Anda masing-masing, dalam diskusi ini adalah ide tentang Terapi Online. Nah, dalam rangka membangun ulang (rekonstruksi) opini Anda masing-masing, di tulisan ini, Kami akan memberikan bungkusan (kesimpulan atau jawaban) versi Kami.

 

Ini dia poin-poin opini Kami untuk melihat apakah terapi online itu efektif atau tidak?

Variabel pertama, tergantung jenis atau karakteristik klinisnya. Sebagai analogi, masuk akal, kan, bahwa: ada beberapa kegiatan kerja yang bisa dilakukan secara online dan ada juga yang tidak bisa dilakukan secara online. Misal, apakah untuk membeli kendaraan baru atau memilih dan mempelajari spesifikasi kendaraan tersebut, bisa dilakukan online? Tentu bisa. Namun jika Anda ingin mencicipi dengan melakukan test drive, tentu ‘lebih pas’ jika Kita melakukannya secara langsung. Karena kalau secara online sama aja dengan games simulator, hehehe. #canda.

Begitu pula aktivitas terapi, ada buanyak atau ada banyak aktivitas terapi yang sangat mungkin dapat dilakukan oleh seseorang yang “bukan-terapis”. Meski demikian tentu ada banyak pula aktivitas terapi yang “hanya bisa dilakukan oleh terapis”.  Jadi, poinnya adalah TERGANTUNG KARAKTERISTIK KLINISNYA (baik secara diagnosa maupun secara metode). Dan, perlu diingat, pendapat Saya disini bukan berarti menjadi pijakan, bahwa seseorang yang ‘bukan-terapis’ boleh melakukan aktivitas terapi. Bukan itu yang Saya maksud. Sedikit bocoran, bahkan saat ini operasi medis saja sudah bisa dilakukan secara jarak jauh The surgeon who operates from 400km away – BBC Future

 

Variabel kedua adalah, tergantung ‘gaya pengasuhan orangtua’. Mungkin istilah tersebut tidak tepat. Tetapi sementara Kami sebut demikian. Contoh yang Saya alami, misalnya. Salah satu kawan dekat Saya, adalah Ibu pekerja, yang bahkan bekerja dekat dengan dunia anak-anak, yang meskipun masih memiliki waktu untuk melakukan aktivitas terapi bersama anaknya di rumah, namun merasa bahwa cara online tidak cocok untuknya.

Alasannya adalah “Gw enggak sabaran. Kayaknya respon anaknya kalau Gw yang latih enggak mau, dan Gw enggak sabar nungguin seperti yang Lo arahin”. YUP! Saya sangat mengerti maksud kalimat tersebut. Karena anak Saya sendiri juga mengalami gangguan perkembangan. Yang tentu saja memberikan treatment (tindakan terapi) ke klien dengan ke anak rasanya berbeda. Ke anak lebih tidak sabaran dibandingkan ke klien. Jadi kalau ada orangtua bilang “Bu Pipit sabar banget ya?” Saya akan jawab “karena Saya dibayar untuk seperti itu”. Haha, menjadi manusia memang sulit. Tetapi ada juga orangtua yang “Saya merasa lebih nyaman tidak keluar rumah saat ini, jadi lebih nyaman online. Jadi lebih ribet sih, tapi Saya jadi tahu lebih banyak tentang anak-anak Saya”.

Bagi Kami keduanya benar dan sah-sah saja. Apapun pilihan Anda, gaya pengasuhan Anda, itulah yang terbaik buat Anda dan anak Anda. Sepanjang Kita terus terbuka untuk belajar dan menerima informasi baru agar ‘apapun keputusan Anda’ adalah sesuatu yang memang Anda merasa nyaman dan ‘happy’ melakukannya. Termasuk jika Anda tidak setuju dengan opini Saya, ya tidak apa-apa juga. Yang penting kita saling menghargai opini dan terus saling mendukung untuk tumbuh bersama. #apasih.

 

Variabel ketiga adalah, penyedia jasa atau sumber daya terapisnya. Inspirasi yang Saya kumpulkan sejak awal pandemik mengamati dinamika dunia sekolah yang menjadi online adalah: Ketika guru/ sekolah lebih berinovasi dalam memberikan pembelajaran online kepada masyarakat pengguna jasanya (dalam hal ini murid dan orangtua) dengan guru/ sekolah yang tidak berinovasi yang akhirnya orangtua menjadi tidak puas atau bertambah repot secara berlebihan, hehe. Seperti jargon dalam Homeschooling: sekolah di rumah, bukan memindahkan sekolah ke rumah. Jadi dalam hal ini Saya menggunakan analogi yang sama: bahwa terapi online adalah terapi di rumah dilakukan oleh orantua atau orang dewasa, dan bukan memindahkan semua tugas terapi ke rumah, lalu orangtua menjadi repot berlebihan.

 

Nah, kira-kira tiga poin itulah yang dapat Saya tawarkan sebagai “contoh” jawaban atas pertanyaan di atas. Semoga dapat menginspirasi Saudara sekalian untuk bisa me-rekonstruksi jawaban versinya masing-masing. Jangan lupa untuk terus mencari informasi seluas-luasnya, tetapi jangan sampai terjebak dalam beragamnya informasi lalu Saudara sekalian menjadi bingung. Bertanyalah dan berdiskusilah dan temukan jawaban atas pertanyaan atau kegelisahan Anda.

 

Salaam,

Thepita Jumat 20 Agustus 2021

Diposting malam atau esoknya.

Related Posts

 

Tinggalkan Balasan