0
(Memahami) Dispraksia Verbalby adminon.(Memahami) Dispraksia VerbalSebuah kata yang bahkan (sorry to say this) saya sebagai terapis wicara, dahulu, lebih dari 8 tahun yang lalu, agak ngeri membayangkannya. Sebuah kondisi yang (mungkin pada saat itu) naluri sebagai ibu-lah yang paling dominan. Bolehlah saya katakan, naluri sebagai ibu yang bertipe melankolis, karenanya saya jadi ngeri, hehe, maaf yaa, saya katakan demikian. Mengapa, […]

Sebuah kata yang bahkan (sorry to say this) saya sebagai terapis wicara, dahulu, lebih dari 8 tahun yang lalu, agak ngeri membayangkannya. Sebuah kondisi yang (mungkin pada saat itu) naluri sebagai ibu-lah yang paling dominan. Bolehlah saya katakan, naluri sebagai ibu yang bertipe melankolis, karenanya saya jadi ngeri, hehe, maaf yaa, saya katakan demikian. Mengapa, ngeri? Karena saya harus menegakkan diagnosa untuk anak saya sendiri.

Singkat cerita, dengan menguatkan hati, saya mengatakan pada diri saya sendiri, “yaaa, anak saya mengalami gejala gangguan perkembangan; dengan gejala khas yang muncul salah satunya adalah dispraksia”.

Pada saat anak saya berusia 20 bulan terapi wicara merupakan program utama baginya untuk mengeliminasi gejala dispraksia verbalnya. Kira-kira sebelum tepat berusia 3 tahun, anak saya sudah bisa mengontrol gerakan mulutnya untuk mengucapkan bunyi-bunyi sederhana non-semantik seperti /ma/. Iya! Hanya sebuah bunyi tunggal /ma/, hampir tidak ada bunyi lain.

Bunyi /ma/ yang berhasil diucapkannya secara konsisten dan sesuai “instruksi” adalah sebuah harapan bagi saya, bahwa anak saya akan bisa berbicara, meskipun mungkin perjalanannya lebih lama dibandingkan anak lainnya.

Ujaran dominan anak saya masih bunyi vokal /a/. Apapun yang diujarkannya adalah kombinasi bunyi /a/. Sehingga seolah-olah ia anak yang pemarah, karena reaksi yang bisa dimunculkannya hanya vokal /a/ yang seringkali mirip teriakan. Meski begitu secara intonasi masih bisa dibedakan mana /aaa/ yang marah mana /aaa/ yang memanggil.

Dan “pemarah” adalah salah satu gejala yang sering tampak di anak dispraksia. Kebayang enggak sih, jika kita berbicara dan lawan bicara Kita tidak memahami ujaran Kita. Lama kelamaan mungkin Kita juga bisa senewen. Karena apa yang Kita sampaikan tidak juga dipahami oleh lawan bicara. Begitu kira-kira, mengapa anak dispraksia seringkali memiliki ciri khas “mudah kesal, gampang marah”. Ditambah kemampuan reseptif anak dispraksia tidak mengalami masalah. Sehingga dalam situasi tersebut tentu mereka mengerti apa yang dikatakan orang lain. Dan karena orang lain tidak memahami mereka sedangkan mereka tahu apa yang diinginkan, jadilah “kesyel.

Tidak lama kemudian, anak saya bisa mengujar /am am am/ untuk kata “nyam nyam”. Inilah yang disebut penyederhanaan bunyi dari bunyi /nyam/ menjadi /am/. Dan kompensasi gerak dari 2-suku-kata NYAM NYAM  diucapkan menjadi 3-suku-kata AM AM AM.

Analoginya: saat kita melompati got dan langsung stop. JIKA tubuh kita seimbang mungkin akan terasa mudah, namun jika kita tidak berhasil menjaga keseimbangan tubuh kita mungkin kita akan sedikit tersungkur ke depan. Mengapa tidak seimbang? Salah satunya bisa dikarenakan sistem program gerakan kita yang tidak baik (gangguan programasi gerak), atau sensitivitas kulit/otot kita yang tidak baik (gangguan neuromuskuler &/ gangguan neurosensori).

Sistem kulit/otot yang tidak baik membuat kulit/otot tidak bisa melaporkan ke sistem gerak (misalnya keseimbangan) untuk menjadi seimbang, tidak bisa melaporkan “eit, agak condong ke kiri nih, atur posisi lebih ke tengah, kalau enggak nanti kita jatuh!”. Begitu kira-kira laporan (feedback) yang diberikan otot/kulit agar tubuh bisa melakukan koordinasi yang sempurna. Nah, bisa dibayangkan jika sistem feedback otot/kulit tidak baik, maka tidak ada feedback yang masuk, akibatnya keseimbangan tidak bisa di-setel (adjust) sehingga ketika diminta memproduksi bunyi /am am/ malah menjadi /am am am/.

Pada dispraksia “kurang lebih berlaku hukum yang sama”, hanya bukan dikarenakan feedback dari otot/kulit yang mengalami masalah, tetapi lebih karena pusat programasi gerak (dalam hal ini gerak wicara) yang tidak bekerja dengan baik sehingga ketika diminta untuk membuat perencanaan gerak sebanyak dua kali /am am/ yang tercipta malah kebablasan menjadi /am am am/. Sistem feedback mungkin berfungsi baik, melaporkan bahwa bunyinya salah, tetapi lagi-lagi pusat programasi alias programernya gagal membuat perencanaan jumlah gerak yang diharapkan.

Nah, penjelasan ini hanyalah penyederhanaan agar mudah diingat dan dipahami saja ya.

Semoga bermanfaat.

Salaam, 26 Agustus 2021

Pipit-thepita

Related Posts

 

Tinggalkan Balasan