0
Pandemik & Terapiby adminon.Pandemik & TerapiTulisan ini tidak dimaksudkan untuk “mengganggu keyakinan” siapapun. Tulisan tentang anak Saya bukanlah sesuatu yang “cocok untuk semua kasus/orang”. Saya membagi pengalaman dan persepsi Saya karena suatu alasan teknis: another paper to keeps my memory and evaluates it! Hmm, sebut saja, usia anak Saya saat ini 10 tahun kurang dua bulan lagi. Secara singkat Saya […]

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk “mengganggu keyakinan” siapapun. Tulisan tentang anak Saya bukanlah sesuatu yang “cocok untuk semua kasus/orang”. Saya membagi pengalaman dan persepsi Saya karena suatu alasan teknis: another paper to keeps my memory and evaluates it!

Hmm, sebut saja, usia anak Saya saat ini 10 tahun kurang dua bulan lagi. Secara singkat Saya bisa bilang bahwa anak Saya memiliki hambatan perkembangan yang kompleks, atau istilah lainnya adalah komorbid, lebih dari satu kondisi. Di awal perjalanan, Saya mengalami kebingungan dalam menetapkan treatment yang tepat yang mana, yang prioritas yang mana. Tetapi saat ini bukan itu yang ingin Saya tulis.

Ortus (wahai para orang tua) yang mengalami cerita2 mirip dimana pun berada, Saya jelas tidak pantas memberi saran. Tetapi ada satu ortu bertanya pada Saya, lalu ada satu ortu lagi yang bertanya, dan lagi, dan lagi. Entah besok, apakah akan ada lagi yang bertanya atau tidak.

Pertanyaannya kira-kira begini? Apa yang harus Saya lakukan untuk anak Saya sekarang (pandemik), di saat untuk bisa memenuhi semua kebutuhan terapi anak tidak semuanya bisa di akses? Alasannya bagi Saya, terserah yang mana: ipoleksosbudhankam. Masih ingat? Ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan.

Jawaban singkat Saya atas pertanyaan tersebut adalah: lakukan apa yang anak Anda butuhkan, sebisa Anda dan sesuai dengan gaya pengasuhan Anda. Saat ini (Juni 2021) sudah bukan waktunya lagi menunggu pandemik berakhir. Jika anda merasa anak anda membutuhkan terapi wicara, ya lakukan. Jika butuh fisioterapi, ya lakukan. Jika butuh A, atau B ya lakukan.

Misal, jika semuanya enggak bisa dilakukan karena alasan ekonomi, bagaimana?

Hehe, berarti jawaban sedang. Ide yang bisa Saya bagikan adalah lakukan aktivitas terapeutiknya sendiri di rumah dengan bantuan supervisi dari terapis yang Anda percaya/suka.

Sedikit cerita: Thepita, sejak awal pandemik pernah menawarkan terapi gratis untuk memberi pengalaman terapi virtual. Dan menyediakan layanan konsultasi gratis jika orangtua ingin mencoba melakukan aktivitas terapi sendiri di rumah dibawah supervisi Kami. Ini Kami lakukan dalam rangka mengisi kegiatan selama pandemik, dan menuntaskan “petualangan” Saya menemani orangtua semaksimal yang Saya bisa. Namun saat ini, kegiatan ini Kami kurangi karena alasan teknis aktivitas thepita yang akan mencoba offline lagi.

Waktu itu, Kami hanya ingin membagi informasi pada orangtua untuk menemukan aktivitas terapeutik di rumah yang tepat yang dibutuhkan anaknya dan yang bisa dilakukan. Saya secara pribadi sejak tahun 2018 percaya bahwa pada dasarnya, orangtua adalah terapis utama bagi anaknya. Itu mengapa Saya “mengabdikan” diri Saya untuk menemani orangtua ngobrol sebebas dan seterbuka yang diperlukan sesuai kompetensi Saya tentunya.

 

Salaam,

Pipit Puspitasari

Juni 2021

 

Tinggalkan Balasan