0
PICKY EATERby adminon.PICKY EATERPernyataan: Untuk diketahui bahwa, istilah picky eater cukup dikenal di masyarakat dan mungkin semakin populer. Namun disini picky eater yang akan disoroti adalah picky eater yang “berdampingan akrab” dengan anak-anak atipikal (anak-anak yang memiliki permasalahan perkembangan). Sehingga treatment yang saya sarankan berbasis temuan empirisnya (di ruang praktik). Sedangkan picky eater yang dialami anak-anak tipikal (tidak […]

Pernyataan:

Untuk diketahui bahwa, istilah picky eater cukup dikenal di masyarakat dan mungkin semakin populer. Namun disini picky eater yang akan disoroti adalah picky eater yang “berdampingan akrab” dengan anak-anak atipikal (anak-anak yang memiliki permasalahan perkembangan). Sehingga treatment yang saya sarankan berbasis temuan empirisnya (di ruang praktik). Sedangkan picky eater yang dialami anak-anak tipikal (tidak memiliki permasalahan perkembangan berarti) menggunakan pendekatan yang berbeda. Dan setiap tenaga kesehatan memiliki “preferensi” yang mungkin berbeda dalam melihat permasalahan. Semua tulisan ini berdasarkan “preferensi pemahaman saya pribadi”. Sehingga koreksi sangat mungkin diperlukan. Tulisan ini dibuat pada Februari 2021.

 

Pertama, kita samakan dulu penggunaan istilah yang perlu dibedakan, yaitu:

  1. Picky eater secara ‘mudah’ bisa disebut sebagai pilih-pilih makanan. Picky eater sebetulnya termasuk istilah klinis yang sering digunakan untuk menggambarkan saat anak memiliki variasi makanan yang terbatas dengan cara menolak substansi makanan tertentu terhadap makanan yang familiar bagi mereka (termasuk juga makanan yang tidak-familiar). Kata kuncinya: pilih-pilih makanan; hanya makan itu-itu saja; atau lebih sering menolak makanan meskipun makanan itu familiar (ataupun termasuk makanan yang tidak familiar) bagi mereka.
  1. Lalu ada istilah ARFID, Avoidant/Restrictive Food Intake Disorders à Bedanya apa dengan Picky Eater? à ARFID ada kata kunci kriterianya, yaitu: gagal tumbuh atau stunting atau failure to thrive, atau ada kehilangan berat badan yang signifikan, atau tergantung dengan suplemen atau makanan tertentu untuk pemenuhan nutrisi dan/atau menggunakan sonde makanan.
  2. Dan ada istilah Neophobic, nah ini saya pribadi memahaminya lebih sebagai sebuah fase normal dalam proses perkembangan anak-anak. Neophobic muncul di usia 18-24 bulan: menolak mencoba makanan baru, sekaligus di usia ini secara perilaku makan anak memiliki preferensi untuk meniru anak lain, sehingga melalui aktivitas “meniru anak lain” makanan baru tetap bisa diperkenalkan.

 

Kedua, gejalanya apa saja?

Ketika anak “diduga” menunjukkan perilaku/performa yang mengarah pada “jangan-jangan picky eater ya”?! Tadi sudah disebutkan, diantaranya adalah:

  1. Pilih-pilih makanan; hanya makan itu-itu saja; atau variasi makanannya sedikit. Nah, berapa variasi makanan yang disebut sedikit itu? Diantaranya ada yang menyebutkan kurang dari 15-20 jenis makanan termasuk snack dan jenis minuman. Ada juga yang menyebutkan variasi yang lebih sedikit lagi yaitu <15 jenis.
  1. Lebih sering menolak makanan meskipun makanan itu familiar bagi mereka; menolak makanan tertentu; cara pemberian tertentu (minum jus jeruk maunya dengan botol minumnya saja, kalau dengan gelas tidak mau); atau hanya mau makan dengan orang atau situasi tertentu;
  2. Dan yang tidak kalah penting adalah “situasi tersebut” memunculkan resiko terganggunya aktivitas sehari-hari (waktu makan beresiko menjadi situasi distress) atau relasi anak dengan orangtua/pengasuh menjadi problematik.

 

Ketiga, penyebabnya apa sih?

Secara ‘singkat dan dangkal’ pada akhirnya penyebabnya “tidak diketahui”. Karena permasalahan makan pada anak ini masih merupakan ilmu yang terus sedang ditelaah lebih mendalam. Namun seringkali picky eater dihubungkan dengan kondisi sebagai berikut:

  1. Anak yang mengalami picky eater mungkin sejak awal memiliki riwayat permasalahan perkembangan (misal: motoriknya terlambat), namun secara khusus dalam hal ini adalah adanya permasalahan makan/minum (feeding difficulties). Namun identifikasi awal masalah makan/minum ini mungkin perlu didiskusikan secara mendalam karena seringkali gejalanya belum familiar di masyarakat.
  2. Keterlambatan dalam proses mengenalkan makanan, contoh: ‘demi kemudahan proses makan’ orangtua memperlama tekstur puree (bubur halus) atau menunda memperkenalkan level teksturnya.
  3. Tekanan dalam situasi makan atau pengenalan makanan yang terlalu cepat, termasuk faktor protektif dari kita sebagai pengasuh primernya. Hal ini kebalikan dari nomor dua. Misal: anak usia 9-12 bulan itu sedang berada di periode sensitif terhadap tektur, dan mengenali makanan berdasarkan tampilan visualnya, serta preferensi makanannya adalah berdasarkan eksposur yang diberikan. Sehingga, anak usia ini jika kita ingin memperkenalkan makanan baru pastikan anak mengenali makanan tersebut secara visual. Atau faktor protektif seperti ingin menyediakan makanan segar atau agar anak memakan makanan yang sama dengan anggota keluarga lainnya. Sound familiar? 😊

 

Keempat, konsekuensi apa yang mungkin bisa dialami jika anak?

Bicara soal makanan tentu fungsi utamanya adalah pemenuhan nutrisi, sehingga konsekuensi yang muncul adalah kurangnya variasi makanan dan kemungkinan mengalami gangguan nutrisi terutama yang populer adalah kurangnya asupan iron dan zinc (terkait dengan kurangnya asupan daging sebagai protein hewani, dan asupan buah dan sayuran); rendahnya asupan serat (akibat dari kurangnya asupan buah dan sayuran) sebagai komponen penting untuk sistem pencernaan sehingga meningkatkan resiko konstipasi.

 

Kelima, strategi penanganannya seperti apa?

Ada dua pendekatan yang saya bagi dalam tulisan ini ya. Yaitu strategi pendekatan untuk anak atipikal dan untuk anak tipikal.

Untuk anak atipikal atau anak yang memiliki masalah perkembangan, sebagian besar pendekatan yang diberikan banyak sekali yang berbasis sensori/motorik. Yang dihubungkan dengan karakteristik sensitivitas anak. Misalnya: untuk anak hiposensitif (kurang sensitif) strategi yang diberikan adalah ‘increasing’ yakni dengan menggunakan makanan yang membuat anak lebih ‘aware’ atau lebih ‘responsif’.

Sedangkan untuk anak yang hipersensitif (terlalu sensitif) dengan memberikan makanan yang lebih ‘calming’ atau menenangkan. Atau untuk anak hipersensitif dengan teknik dilutif (diencerkan), misal: taste (rasa) makanan diturunkan (seperti contoh kuah soto yang saya bahas di IG-Live Rumah Acacia pada Selasa 09 Februari 2021 lalu), dimana kuah soto diencerkan agar rasanya tidak terlalu tajam sampai batas anak mau mencicip-cicip sedikit-sedikit, setahap demi setahap, selangkah demi selangkah.

Selain strategi makanan, juga ada strategi yang lebih integratif dalam rangka mengembangkan sistem perkembangannya secara menyeluruh.

Sedangkan untuk anak tipikal (tidak mengalami masalah perkembangan), strategi yang populer adalah seperti: penyajian makanan yang lebih menarik bagi anak, pengenalan berulang terhadap makanan yang ditargetkan, orang tua atau anggota keluarga memberi contoh sehingga anak bisa modelling terhadap makanan tersebut, termasuk membangun situasi makan yang kondusif dan menyenangkan khas anak-anak. Tapi jangan tanya saya bagaimana mempresentasikan makanan agar menarik, hehe, skill saya disitu parah, haha…

Pembeda antara picky eater pada anak atipikal dengan tipikal apa? Yeah, bisa dibilang saat anak diberi strategi seperti strategi untuk anak tipikal tetapi tidak berhasil, mungkin bisa jadi ada isu lain, meskipun tidak menunjukkan masalah perkembangan yang jelas. Ciri bahwa picky eater-nya tidak mengarah pada problem yang serius termasuk juga “menghilang dengan sendirinya” tanpa penanganan yang intensif.

 

Tapi bagi saya pribadi, jika anda bisa mengakses informasi lebih jelas, tidak ada ‘ruginya’ bertanya ke tenaga kesehatan agar lebih jelas. Karena setiap permasalahan perkembangan terkadang ‘tidak general’.

 

Semoga bisa memberi faedah 😊

Salaam,

Pipit-thepita

Related Posts

 

Tinggalkan Balasan