0
Rumah Berantakan dan Ngomel-ngomelby adminon.Rumah Berantakan dan Ngomel-ngomelPilih mana: 1) Lihat rumah berantakan dan merasa tertekan atau melihat berantakan dan tetap merasa ‘biasa aja’? 2) Malas membereskan rumah karena pengen rehat tapi merasa bersalah atau tetap rehat dan merasa biasa aja meski tidak membereskan rumah? 3) Duduk santai di tengah2 rumah seperti kapal pecah dan tetap merasa ‘biasa aja’ atau duduk hopeless […]

Pilih mana:
1) Lihat rumah berantakan dan merasa tertekan atau melihat berantakan dan tetap merasa ‘biasa aja’?
2) Malas membereskan rumah karena pengen rehat tapi merasa bersalah atau tetap rehat dan merasa biasa aja meski tidak membereskan rumah?
3) Duduk santai di tengah2 rumah seperti kapal pecah dan tetap merasa ‘biasa aja’ atau duduk hopeless karena merasa pekerjaan rumah enggak selesai-selesai?

Is it sounds familiar?
Syukurlah kalau tidak.
Sayangnya, saya begitu.

Bertahun-tahun dikendalikan oleh hukum perasaan terdalam (hasrat; id) yang ingin dipuaskan. Bahkan harus dipuaskan, tidak bisa tidak, karena begitulah hasrat bekerja.

Mengapa ada hasrat yang menginginkan rumah selalu dalam bentuknya yang paling ciamik, no debu, no berantakan, dan no-no lainnya. Kenyataannya dalam sejarah hidup saya: hampir tidak pernah terjadi. Bahkan saat lajang sekalipun. Di kamar kost, hanya rapi saat setelah dirapikan. Seminggu kemudian, temuan onggokan-onggokan ada di beberapa area. Entah buku yang jadi bertumpuk enggak rapi; atau setrikaan yang melambai-lambai. Jangan-jangan isi kepala saya seperti ini juga, qiqiqiqiqi (tertawa untuk melonggarkan pintu masuk ke unconscious, biar mudah diakses nanti).

Bagaimana saya bisa berdamai dengan kenyataan bahwa saya bukanlah seorang yang mampu menjaga kerapihan dekorasi rumah, itu PR besar saya.
Pertama, tentu saja kesal bukan kepalang saat melihat rumah berantakan, mainan disana sini, baik mainan anak saya, maupun mainan bapaknya, juga termasuk mainan saya sendiri. Cak.
Kesal bercampur amarah karena kecewa melihat kenyataan bahwa pasangan hanya leyeh2 dan tidak sigap membantu. Benar-benar bukan pasangan ideal, seperti yang dibayangkan. Cik.
Perasaan menggelora yang lain yang belum teridentifikasi, yang akhirnya saya rangkum dalam sebuah tindakan: beberes sambil ngomel. Mending kalau cuma ngomel saja, tidak jarang disertai tuduhan-tuduhan yang belum tentu benar yang ditujukan ke anak maupun pasangan.
Can you see what I see?

Jika hal ini terus berlanjut, sangat berbahaya (menurut saya). Setahap demi setahap saya mencoba menganalisa perilaku saya, apakah yang sebenarnya mengganggu saya yang dipicu oleh keadaan rumah yang berantakan itu? Ini adalah pertanyaan mudah yang jawabannya bisa melingkar, memutar, berulir, meliuk, memantul, dan berlapis-lapis. Tetapi pengalaman memberi tahu saya, ketika saya sampai kepada sebuah “insight yang benar”, maka berubahlah skenario dan dialog yang ada dalam suatu ulangan episode: rumah berantakan saat PRT enggak dateng dan malas beberes rumah, dll.

Sebagai contoh.
Begitu saya menelusuri tepian-tepian dalam pikiran dan perasaan saya, ada banyak informasi yang bisa saya olah, menjadi sebuah kenyataan yang “harus” saya terima jika saya ingin merasa “biasa aja” alih-alih merasa tidak nyaman. Salah satunya adalah: Saya merasa terintimidasi oleh nilai ideal yang saya gunakan tentang ‘kehidupan rumah tangga yang baik/keren/harmonis/bahagia’ dan mungkin termasuk sekarung kata lain yang menggambarkan superioritas dan perfeksionitas.

Mengapa superioritas? Karena dalam situasi sosial, nilai yang saya pelajari (mungkin ini nilai kolektif juga) dan tanpa saya sadari melekat pada diri saya adalah: jika seseorang itu berkedudukan tinggi (memiliki prestasi, pintar, ranking satu, berbakat, anak orang kaya, anaknya kepala sekolah, cantik/ganteng, dsb), “pasti” mendapatkan penghormatan, pengakuan, dan termasuk kasih sayang lebih banyak dari lingkungan/orang lain dibandingkan yang bukan superior. Catet ya: lebih banyak!
Mengapa perfeksionitas? Seluruh kalimat dalam kurung tadi (memiliki prestasi, pintar, ranking satu, berbakat, anak orang kaya, anaknya kepala sekolah, cantik/ganteng, dsb) adalah sebuah kondisi yang terlihat sempurna, perfek. Atau setidaknya selalu memiliki tampilan yang lebih baik; entah mengapa anak kepala sekolah itu terlihat lebih ganteng daripada yang lain; entah mengapa anak yang pintar atau berprestasi itu terlihat lebih keren dibanding anak lain yang tidak berprestasi.

Kedua postulat ini, superior dan perfek (tanpa saya sadari) telah menjadi acuan hidup saya. Sehingga ketika rumah berantakan, saya terjemahkan sebagai ‘saya tidak perfek’. Dan karena perfek adalah sebuah nilai yang dibutuhkan agar saya merasa aman (merasa lebih dicintai, lebih diterima oleh lingkungan), maka rumah yang berantakan menjadi ancaman bagi saya. Karena jika rumah berantakan itu berarti saya tidak perfek; kalau saya tidak perfek maka saya tidak mendapatkan penghormatan, pengakuan, atau kasih sayang lebih banyak dari lingkungan/orang lain.

Karena saya menginginkan penghormatan, pengakuan, atau kasih sayang yang lebih banyak, maka saya harus melakukan sesuatu untuk mendapatkannya, yaitu melalui tampil “perfek” itu tadi. Dan karena faktanya (rumah berantakan) yang berarti bahwa saya tidak perfek, maka saya harus melakukan strategi lain. Apakah strategi lainnya? Yaitu superioritas.

Bagaimana caranya agar saya superior? Ya, salah satunya dengan ngomel itu tadi. Mengapa ngomel? Karena peristiwa ngomel itu biasanya terjadi dari orang yang superior ke sub ordinatnya (orang yang di bawah kendalinya). Misalnya: bos ke anak buah, dosen ke mahasiswa, guru ke murid, (dan catet) orang tua ke anak. Bukan sebaliknya, karena kalau sebaliknya (sub ordinat ngomel ke ordinat) misal anak ngomel ke orang tua itu dianggap buruk*.
*Tapi, jangan dibalik ya! Lalu dengan pernyataan ini, dianggap bahwa anak boleh ngomel ke orang tua. Jangan ya, wahai pembaca tulisan ini!

Perlu saya sampaikan disini bahwa “runtutan sebab akibat” dalam kasus saya adalah kebenaran subjektif versi saya sendiri, sehingga menjadi tidak nyambung jika diperdebatkan dengan data orang lain. Tetapi jika dilakukan klarifikasi atau debat oleh saya sendiri, dalam rangka memahami diri saya sendiri, ya memang begitulah caranya bermain-main dengan ego sendiri (yang bertujuan ‘terapeutik’ biar move on).

Saya berharap, dari tulisan perdana percobaan ini, ada seseorang yang ikut “tersembuhkan”.
Salaam,
Me, Juni2020

Related Posts

 

Tinggalkan Balasan