0
SENSORY INFLUENCES AND THEIR MANAGEMENT part 2by adminon.SENSORY INFLUENCES AND THEIR MANAGEMENT part 2Kemampuan sensori memainkan peran yang sangat penting dalam proses perkembangan makan dan minum. Perhatian khusus diperlukan sebelum pemberian terapi intra-oral agar bisa mengurangi asosiasi-negatif yang mungkin dimunculkan oleh anak. Dimana ide-ide terapi pemberian makan harus praktis dan sesuai dengan kebiasaan keseharian keluarga. Hypersensitivity Kondisi dimana anak menunjukkan reaksi yang berlebihan dari yang diharapkan terhadap stimulus […]

Kemampuan sensori memainkan peran yang sangat penting dalam proses perkembangan makan dan minum. Perhatian khusus diperlukan sebelum pemberian terapi intra-oral agar bisa mengurangi asosiasi-negatif yang mungkin dimunculkan oleh anak. Dimana ide-ide terapi pemberian makan harus praktis dan sesuai dengan kebiasaan keseharian keluarga.

Hypersensitivity

Kondisi dimana anak menunjukkan reaksi yang berlebihan dari yang diharapkan terhadap stimulus tertentu. Kondisi hipersensitif juga bisa merupakan gangguan primer_tidak selalu merupakan gangguan sekunder akibat kondisi tertentu. Penting bagi terapis dan atau lingkungan untuk mengetahui bahwa reaksi yang ditunjukkan oleh anak (hipersensitif) bisa dipengaruhi oleh rasa takut, aktivitas tertentu, orang, dsb. Kondisi ini disebut dengan defensiveness. Misalnya; salah seorang anak di tempat kami, selalu menarik badannya ke belakang dan menunjukkan ekspresi ketakutan setiap kali melihat vibrator walaupun dalam keadaan tidak menyala (vibrator-off). Bunyi getar vibrator selalu dihubungkan anak dengan pengalaman yang tidak menyenangkan dengan clipper atau pemotong rambut listrik.

Hipersensitif oral ditandai dengan, merapatkan bibir dengan berlebihan, gagging, menarik badannya ke belakang, menutup/memalingkan wajahnya, atau bahkan berteriak histeris. Anak dengan ASD bisa mempunyai kesulitan dalam memodulasi respon yang diterima tubuhnya; contoh, anak menjadi hipersensitif terhadap suara, rasa atau tekstur tertentu. Kita juga harus ingat, bahwa banyak dari sebagian orang mempunyai hipersensitifitas dengan stimulasi tertentu; contoh, seseorang bisa gagging(refleks muntah) ketika mencium aroma durian.

Berikut beberapa contoh aktivitas yang mungkin bisa meminimalisir hipersensitif sebelum dan ketika makan.

  • Lakukan aktifitas yang memberi stimulasi rendah pada vestibular (slow vestibular stimulation); contoh, bermain ayunan dengan lembut, melompat dengan menggunakan gym-ball.
  • Dengan menggunakan tangannya bimbing anak untuk  menyentuh wajah dan mulutnya, gunakan  gerakan yang lembut sehingga tidak menimbulkan reaksi hipersensitif.
  • Lakukan eksplorasi menyeluruh terhadap kemampuan makan anak melalui langkah-langkah yang perlahan agar anak mempunyai pengalaman yang menyenangkan terhadap makan/makanan. Misalnya; pertama hanya melihat mangkuk makanan yang masih kosong dan menyentuhnya, lalu menaruh sedikit makanan-target pada mangkuk, kemudian menyentuhnya. Hal ini memungkinkan anak mempunyai kesadaran bahwa ia mampu mengontrol gerakannya dan mampu mengendalikan reaksi yang mungkin timbul dari tubuhnya. Sehingga pada akhirnya anak mampu dan mau melakukan proses eksplorasi untuk meminimalisir reaksi hipersensitif.
  • Kembangkan kemampuannya mengenal dan memasukkan makanannya ke dalam mulut dalam suasana yang menyenangkan sehingga anak menyukainya.

Hyposensitivity
Kondisi dimana anak menunjukkan reaksi yang sangat kurang dari yang diharapkan terhadap stimulus tertentu. Misalnya; anak tidak menyadari keberadaan makanan di dalam mulutnya. Hal ini bisa mempengaruhi kemampuan mulut seperti batuk, gag-reflex dan refleks menelan menjadi kurang responsif atau bahkan tidak responsif sama sekali. Sehingga bisa meningkatkan resiko terjadinya aspirasi atau tersedak.

Berikut beberapa kondisi yang perlu diperhatikan untuk kondisi hiposensitif

  • Riwayat pemberian medikamentosa, terutama obat anti-konvulsan.
  • Konsultasikan dengan Fisio atau Okupasi Terapis mengenai aktifitas atau latihan yang bisa meningkatkan tonus otot leher atau bahu (penunjang otot postur).
  • Tentukan tipe, intensitas dan frekuensi stimulasi sensori yang akan diberikan, setiap anak mungkin berbeda.
  • Tingkatkan kesadaran dan kemampuan diskriminasi sensasi dengan memberikan stimulus yang bervariasi serta perhatikan gradasi stimulannya agar anak tetap nyaman dan rileks.
  • Eksplorasi kemampuan responsif anak terhadap getaran dari vibrator, mainan, atau sikat gigi elektrik untuk membantu meningkatkan kewaspadaan anak.
  • Tetap perhatikan reaksi anak dan bekerjalah secara bertahap dan lembut untuk meminimalisir reaksi-negatif yang mungkin timbul (defensiveness).

____________________ Semoga Bermanfaat, Pipit Puspitasari Amd.TW __________________

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Related Posts

 

Tinggalkan Balasan