0
Tanya: Stimulasi Refleks Menghisap pada Anak CP Spastik & off-NGTby adminon.Tanya: Stimulasi Refleks Menghisap pada Anak CP Spastik & off-NGTAda pertanyaan yang disampaikan seperti ini: (1) bagaimana cara melakukan stimulasi keterampilan sucking/ menghisap pada anak CP Spastik yang telah tumbuh gigi karena beresiko tergigit; dan (2) bagaimana menentukan waktu off-NGT yang tepat. Nah, pertanyaan tersebut lahir dari situasi klien yang masih menggunakan NGT yang memiliki kemampuan menghisap yang belum berkembang baik, tetapi saat diberi […]

Ada pertanyaan yang disampaikan seperti ini: (1) bagaimana cara melakukan stimulasi keterampilan sucking/ menghisap pada anak CP Spastik yang telah tumbuh gigi karena beresiko tergigit; dan (2) bagaimana menentukan waktu off-NGT yang tepat. Nah, pertanyaan tersebut lahir dari situasi klien yang masih menggunakan NGT yang memiliki kemampuan menghisap yang belum berkembang baik, tetapi saat diberi makanan puree (bubur bayi instan) ternyata respon anaknya positif (anak dapat menelan dengan baik), apakah sudah boleh off-NGT?

Pertanyaan ini tentu saja diajukan oleh rekan sesama terapis wicara, sehingga jawaban di sini saya tujukan kepada rekan sesama terapis. Untuk menjawabnya lumayan berputar-putar nih. Saya coba ya.

Saya anggap Anda tahu bagaimana melakukan stimulasi menghisap pada anak tersebut. Dari pertanyaan tersebut saya duga bahwa Anda melakukan stimulasi dengan cara menyentuh area mulut pada permukaan langit-langit (sebut saja begitu) dengan menggunakan jari. Jadi, gunakan media perantara: seperti toothtrainer atau dot. Mudahnya, gunakan media ini (sebutlah) sebagai pengganti jari 😉

Catatan lain soal media terapi adalah, hindari tersedak karena karetnya lepas atau kapasnya lepas. Jadi pastikan alat yang digunakan memang memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Hehe.

Jadi jawaban nomor satu sudah ya, merangsang menghisap tidak selalu langsung di dalam mulut. Dan kita bisa menggunakan media selain jari, seperti toothtrainer, dot, probe, dll.

Pertanyaan kedua, sebutlah saya kerucutkan bahwa, Anda sebagai terapis wicara telah memegang tanggung jawab sebagai tenaga kesehatan yang membuat keputusan “off-NGT yang tepat”. Mengapa saya sampaikan demikian, karena ini sangat tergantung dengan lingkungan dan budaya atau pembagian tanggung jawab kerja di wilayah tempat Anda bekerja. Atau setidaknya jika Anda bukan pengambil keputusan final soal waktu pelepasan NGT yang tepat, setidaknya Anda adalah bagian dari tim multidisiplin yang opininya mengenai pelepasan NGT sangat diharapkan.

Ciri umum kapan NGT dilepas adalah: (1) ketika benefit NGT lebih sedikit daripada resiko/ efek sampingnya. Beberapa waktu lalu di webinar Seri 01 Nicu/ Picu juga dijelaskan oleh dokter Ivan Riyanto W., Sp.A (K) yang dalam pemahaman dan frase saya sendiri, kira-kira penjelasannya begini: “memang dengan dipasang OGT, bayinya di kemudian hari jadi punya masalah feeding. Tetapi kebutuhan nutrisinya saat ini jauh lebih penting untuk dipenuhi karena anaknya tidak bisa makan/minum”. Jadi, antara bayinya memiliki resiko gagal tumbuh karena kekurangan nutrisi versus efek samping jadi susah makan akibat adanya benda asing di tenggorokan, ternyata lebih benefit dipasang OGT, karena kalau tidak pakai OGT bayi bisa gagal tumbuh dan bahkan resiko meninggal karena kekurangan nutrisi. Begitu, kira-kira. Artinya: OGT dipasang dong, jangan enggak dipasang.

Sekarang ya, tinggal Anda ukur, atau diceklis antara benefit menggunakan NGT dan melepas NGT. Apalagi jika anak masih belum memiliki respon makan/minum yang aman dan kebutuhan nutrisinya beresiko tidak terpenuhi dengan baik, mungkin kita perlu meninjau ulang keputusan off-NGT.

Kapan dinilai kebutuhan nutrisinya cukup terpenuhi sehingga bisa off-NGT. Nah parameternya beragam, tergantung rujukan yang disukai. Ada yang menggunakan rujukan berat badan. Jadi meskipun makan per oralnya sudah lebih bagus tapi kalau berat badan ideal belum tercapai, NGT-nya belum boleh dilepas supaya nutrisi lainnya masih bisa diberikan.

Sebagai terapis wicara, karena panduan kita adalah mekanisme makan/minum/menelan yang aman. Maka saya lebih menekankan pada keamanan makan/minum/menelan itu sendiri. Kapan dibilang aman? Saat tanda-tanda negatif (tersedak, batuk, volume intake sedikit, dll) tidak ada.

Atau dengan penilaian lain, misalnya, pada perbandingan jumlah intake oral (makan/minum per oral) sudah memiliki persentase lebih besar. Angka yang saya sukai adalah minimal 80 persen. Jadi kalau kebutuhan anak sekali waktu makan (sebutlah) 100 cc, dan sudah bisa intake per oral sebanyak 80 cc, artinya anak sudah bisa makan sebanyak minimal 80 persen. Di sini sudah bisa dipertimbangkan untuk di off-NGT dengan pengawasan. Tetapi kalau intake oral-nya baru 50 persen, masih terlalu beresiko kekurangan nutrisi karena setengah porsinya masih harus menggunakan NGT kalau tidak, anak beresiko kekurangan nutrisi.

Tetapi, di sini, saya juga ingin mengingatkan. Kalau yang memasang NGT bukan kita, maka yang berhak melepasnya pun bukan kita. Kita hanya bisa menginformasikan progres dari kemampuan intake oral-nya saja. Yaa, kira-kira begitu.

Nah, persoalan mengenai anaknya masih memiliki kemampuan menghisap yang lemah tetapi saat diberikan puree anak mampu merespon dengan baik. Ini agak tricky ya, jawabannya. Jadi, apakah boleh off-NGT saat makan dengan puree positif tetapi penggunaan dot masih negatif?

Jawaban saya sama, ukur benefitnya, bukan per skill dan mengandalkan skill tertentu saja. Ukur volume intake oral-nya, apakah benar sudah terpenuhi, jangan-jangan hanya sekedar makanan puree, lalu cairan seperti air minum tidak bisa terpenuhi dan malah menimbulkan resiko dehidrasi. Dan, again, di anak-anak biasanya patokan berat badan tidak pernah ditinggalkan.

Kata kuncinya adalah: benefit-nya lebih banyak mana; nutrisi optimal; menelan aman; tidak dehidrasi; hmm apalagi ya.

Oh, mungkin itu dulu kali ya.

Salaam,

Semoga menambah data secara positif ya dari penjelasan ini.

Related Posts

 

Tinggalkan Balasan