0
TONGUE TIE dan LIP TIE Iwang #1by adminon.TONGUE TIE dan LIP TIE Iwang #1  Mendengarkan ceramah pada Senin 13 Mei 2019 dari Lori Overland, M.S., CCC-SLP., NDT, mengenai Functional Assessment and Remediation of Tethered Oral Tissues (TOTs). Pada hari tersebut saya menggunakan kesempatan yang ada untuk bertanya dan memperjelas situasi Iwang: apakah perlu dilakukan pemotongan TT dan LP atau tidak. Lori menegaskan bahwa secara etika (profesi) dia tidak […]

 

Mendengarkan ceramah pada Senin 13 Mei 2019 dari Lori Overland, M.S., CCC-SLP., NDT, mengenai Functional Assessment and Remediation of Tethered Oral Tissues (TOTs). Pada hari tersebut saya menggunakan kesempatan yang ada untuk bertanya dan memperjelas situasi Iwang: apakah perlu dilakukan pemotongan TT dan LP atau tidak. Lori menegaskan bahwa secara etika (profesi) dia tidak bisa memutuskan tindakan tersebut, tetapi dia lebih dari sekali menegaskan bahwa “after this, you may change your mind”.

Lalu Lori merekomendasikan satu buku yang mungkin bisa menjawab banyak pertanyaan saya mengenai perkembangan Iwang yang sebelumnya sempat saya ceritakan kepadanya. Buku t ersebut berjudul GASP: Airway Health The hidden path to wellness yang ditulis oleh Michael Gelb, DDS, MS dan Howard Hindin, DDS.  Di akhir pertemuan Lori sempat menanyakan apa yang akan saya lakukan setelah ini, dan secara spontan saya menjawab bahwa saya akan memberi waktu maksimal 3 bulan untuk membuat keputusan akhir mengenai apakah saya akan mengambil tindakan pemotongan TT dan LP anak saya atau tidak. Dan Lori hanya mengatakan “bagus. Selamat berpetualang!”

Ketika di Lobi Hotel menunggu taksi yang akan menjemput saya ke Bandara, saya mengobrol sebentar dengan Jesse, dan tenggat waktu saya berubah, bukan lagi 3 bulan, rasanya kelamaan, tetapi satu bulan atau bahkan 3 minggu. Dan. Semingu kemudian, Senin 20 Mei 2019, Iwang telah mendapatkan tindakan pemotongan TT.

Seminggu? Kenapa seminggu? Kenapa sesingkat itu?

Nah, untuk menjawab pertanyaan ini sangat panjang alasannya. Tapi setidaknya saya tuliskan hampir semua alasannya, dan sementara tanpa penjelasan rinci. Alasan saya melakukannya adalah:

  1. Progress kejelasan artikulasinya dalam 3 tahun (2015 – 2018) terakhir masih di bawah 20% per semester. Dan sepanjang tahun2 tsb saya memodifikasikan program terapinya dengan beberapa teknik lain yang saya pelajari dengan harapan adjustmen dari berbagai segi perkembangan dapat optimal dan terciptalah kesehatan yang lebih baik (artikulasi, bahasa dan terutama kesehatan fisik), tetapi “saya belum puas”. Terutama keajegan pencapaian, jadi: progress ada tetapi tidak ajeg dan terhambat kesehatan.
  2. Sekitar usia 5 tahun (2016) Iwang mulai ngorok dan di akhir tahun 2017 saya tahu bahwa Iwang mengalami gangguan nafas saat tidur, dengan oksigen darah yang bisa turun sampai 60 apalagi kalau sedang sakit. Tetapi belum sanggup untuk melakukan pemeriksaan laboratorium tidur yang waktu itu saja tarif periksanya sekitar 4 jutaan dengan tidak ada jaminan kalau ternyata pemeriksaan gagal (secara Iwang dengan karakter sensori dan perilakunya, pasti itu kabel yang bertebaran di muka dan kepala bisa dicabut2 sepanjang malam, hehe).
  3. Secara umum kondisi kesehatannya memburuk, Iwang sangat mudah demam dalam setahun mungkin hampir setiap bulan, meskipun hanya demam2 kecil yang sehari dau hari terus normal lagi. Buat saya ini tidak seru. Dan saya “lelah” menemui resep2 yang hanya mengurangi dan menghilangkan gejala saja. Sehingga di tahun ini saya memutuskan untuk “sok pintar” memasang2kan seluruh potongan puzle anak saya sendiri ditemani mbah Google, dan orang2 yang bersedia ngobrol.
  4. Ada beberapa karakteristik oral yang sangat spesifik yang tidak mengalami progress berarti (yang belakangan saya baru tahu jika itu salah satu tanda TOTs) yaitu Lidah Cupping yang tidak jua menghilang padalah latihan sudah maksimal.
  5. Gejala TT dan LP Iwang telah muncul sejak detik pertama kelahirannya, dan semua gejala breasfeeding (kecuali BB rendah) ada di Iwang semua. Tapi ajibnya, saya tidak tahu jika itu TT, mungkin karena waktu itu mbah Google belum segampang sekarang (hehe, pembenaran ini!).
  6. Terakhir, just follow my feeling for my son’s health hope getting better.
  7. Yang Paling Penting, tentu saja Berharap Pada Yang Maha Kuasa bahwa ini jalan terbaik (manfaatnya lebih banyak dari mudharatnya) yang perlu ditempuh.

 

Itulah diantaranya, mengapa akhirnya saya memutuskan untuk melakukan pemotongan TT dan LP. FYI, sepanjang hidup saya sebagai terapis wicara, saya tidak pernah benar2 familiar dengan TT dan LP sampai saya bertemu satu kasus artikulasi yang minim-progress di tahun 2014 dan anak tsb memiliki TT. Tetapi karena saya tidak paham, rekomendasi saya waktu itu hanyalah sebuah tindakan hati2: yaitu menyarankan ortu untuk berkonsultasi dengan ahli bedah gigi dan mulut di suatu Rs. Sayangnya, ortu tsb masih belum mau bahkan sampai dengan saat ini.

Di saat itu saya berpegang pada pernyataan sesama rekan sejawat yang ilmunya paling update, bahwa riset mengenai TT (khususnya tipe moderat ringan) dan korelasinya dengan bahasa-wicara masih belum ada. Itu salah satu alasan mengapa saya menghindari tindakan pemotongan TT pada saat itu (atau lebih tepatnya tidak tahu mana yang paling terbaik). Namun sekarang, sepertinya saya lebih berpihak pada pemotongan TT dari pada tidak, APALAGI jika indikasi atau gejala pemberat lain sudah ada.

 

Allahu a’lam

Salaam,

Pipit-Thepita

@TerapiWicara

Related Posts

 

Tinggalkan Balasan