0
Video Call Therapy – Pembukaby adminon.Video Call Therapy – PembukaAssalamua’laikum wr wb wm, Salam sejahtera, Semoga kita semua selalu dalam keadaan yang baik, tidak kurang suatu apapun, dan diberikan kesabaran dalam menjalani proses hidup yang baru ini, yang semoga makhluk bernama Covid-19 ini segera berlalu…   Memasuki minggu terakhir di bulan April 2020, tak terasa telah berjalan lebih dari sebulan sejak diberlakukannya #DiRumahAja. Kita […]

Assalamua’laikum wr wb wm,

Salam sejahtera,

Semoga kita semua selalu dalam keadaan yang baik, tidak kurang suatu apapun, dan diberikan kesabaran dalam menjalani proses hidup yang baru ini, yang semoga makhluk bernama Covid-19 ini segera berlalu…

 

Memasuki minggu terakhir di bulan April 2020, tak terasa telah berjalan lebih dari sebulan sejak diberlakukannya #DiRumahAja. Kita “dipaksa” beradaptasi dengan kebiasaan baru tersebut, #DiRumahAja. Yang juga menjadi topik bahasan dalam beberapa iklan seminar daring (online), tentang kemampuan adapatasi kita agar tetap memiliki “well being yang baik”.

Bagi beberapa orang yang masih aktif beraktivitas keluar rumah, mungkin “biasa saja” kecuali situasi menjadi lebih sepi. Sedangkan bagi kita yang total #DiRumahAja dengan tugas/pekerjaan yang secara tidak langsung juga berkurang, mungkin merasakan “perasaan tidak nyaman” sebagai respon alamiah tubuh dalam menerjemahkan situasi yang baru. Yaa, mirip-mirip Jetlag—kalau pernah merasakan—saya sih belum, karena memang belum pernah keluar negeri jauh-jauh, hehe.

Perasaan tidak nyaman itu lalu kita respon secara berbeda-beda. Namun dari meme yang beredar tentang anak sekolah yang ingin segera bersekolah, kita tahu bahwa itu mewakili kegelisahan banyak orang. Karena lelucon adalah salah satu mekanisme pertahanan diri, jika dilihat dari kajian psikologi.

Beberapa teman juga memvalidasi bahwa proses adaptasi ini lumayan menguras perasaan. Namun berbekal kepercayaan (iman, positive thinking, dll) kita terus menjalani ini dengan harap-harap cemas, dengan bergembira, dengan apapun yang kita rasakan masing-masing. Situasi ini benar-benar latihan batin yang nyata. Ya, setidaknya bagi saya. Atau jangan-jangan saya doang ini yang merasa, hehe.

Begitu pula untuk layanan terapi saat ini, kita melakukan teleterapi melalui aplikasi viceo call yang tersedia, pun adalah hal yang baru. Memang betul, kami, Thepita, sudah menjalani layanan Video Call Therapy atau VCT sejak lebih dari setahun yang lalu. Tetapi, setiap kali memulai sebuah sesi VCT dengan orangtua yang baru memulai VCT selalu ada proses adaptasi. Dan memang begitu, segala hal yang baru selalu butuh proses.

Kami menyadari, bahwa melakukan VCT khususnya bagi para orang tua, tidaklah mudah. Untuk itu, kami mencoba menyajikan beberapa informasi mengenai bagaimana VCT dapat dilakukan pada tulisan-tulisan berikutnya.

 

See you

Thepita

270420

Related Posts

 

Tinggalkan Balasan